Apakah Perilaku Manusia Sudah Melampaui Hewan

perlintasan-KA-sebidang
(SOLO,terminaltirtonadi.com) – Perpotongan sebidang yang digunakan lalu lintas umum atau lalu lintas khusus, pemakai jalan wajib mendahulukan pejalan kaki. Pemakai jalan wajib mematuhi semua rambu-rambu jalan di perpotongan sebidang. Dalam hal terjadi pelanggaran yang menyebabkan kecelakaan, maka hal ini bukan merupakan kecelakaan perkeretaapian. 

Pintu perlintasan pada perpotongan sebidang berfungsi untuk mengamankan perjalanan kereta api (pasal 110 PP 72/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api). Pada mulanya dibuat dibuat palang pintu di perlintasan kereta di Jaman Pemerintah Kolonial Belanda untuk menghalagi hewan agar tidak melintas, saat kereta api lewat.
Lain halnya dengan sekarang, justru palang kereta sudah ditutup, manusianya yang tidak mau bersabar masih tetap melanggar. Apakah sekarang perilaku manusia sudah melampaui hewan?

Dampaknya, angka kecelakaan di perlintasan sebidang tidak pernah menyusut turun. Sejak 2004 hingga November 2017, sebanyak 475 tewas meregang nyawa, 533 luka berat dan 274 luka ringan.

Simak juga : aminan Keamanan di Simpul Transportasi Butuh X-Ray

KA-sebidang-perlintasan

Perlintasan sebidang se Indonesia sebanyak 5.839 lokasi. Perlintasan yang berizin atau resmi di Jawa 969 (81%) dan di Sumatera 225 (19%).Yang tidak berijin jauh lebih besar, yakni 4.635 lokasi (79,5%), Jawa (3.517) dan Sumatera (1.118).

Jika ada kepala daerah merasa berberatan dengan ditutupnya perlintasan sebidang, tidak harus seketika menolak. Mestinya turut mendukung, karena turut menyelamatkan warganya dari korban kecelakaan.

Pelanggar terbesar di perlintasan sebidang adalah pesepeda motor. Solusinya, kepala daerah bisa membangun sendiri atau mengusulkan ke Kemen PUPR untk dibangun fly over atau underpass. Seperti yang baru terbangun di Klonengan dan Kesambi  (Kabupaten Tegal), Kretek dan Dermoleng di Kabupaten Brebes. 
Untuk mengurangi pesepeda motor, pemda pun bisa segera menata transportasi umum di daerahnya, agar warga mau beralih ke transportasi umum. Jika tidak sanggup, mintalah bantuan ke Kemenhub untuk menata transportasi umum di daerahnya.

Dapat juga diberikan kekhususan bagi kendaraan tidak bermotor (pejalan kaki dan pesepeda) dengan penghalang rapat, sehingga tidak dapat dilewati sepeda motor.
Perpotongan antara jalur kereta api dan jalan dibuat tidak sebidang adalah amanah dari UU No. 23/2007 tentang Perkeretaapian dan UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Baca juga : Stop Pembagian Bus, Dana Operasional Transportasi Umum Lebih Urgen

Pemda dapat ikut menyosialisasikan dan meminimalisir dampak dari penutupan perlintasan sebidang, seperti meyakinkan warganya tentang pentingnya keselamatan dan dampak jangka panjang yang akan di terima oleh masyarakat.
Pada prinsipnya, pembangunan perlintasan tidak sebidang dengan membangun flyover atau underpass sebagai pengganti dari perlintasan sebidang.
Oleh karena itu ketika perlintasan tidak sebidang selesai dibangun, maka perlintasan sebidang di lokasi itu harus ditutup.
Pemda dapat membantu dengan mengantisipasi penutupan perlintasan sebidang tersebut, antara lain dengan menyediakan fasilitas penyeberangan orang dan pengguna sepeda serta kendaraan tidak bermotor lainnya. (*)
sebidang-perlintasan-KA

Dikirim oleh : *Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia


Silahkan berikan masukannya di kolom komentar. Jika anda merasa artikel ini bermanfaat, jangan lupa untuk mengKLIK tombol share agar semua orang tahu…

Klik juga 
Ikuti akun twiter  (https://twitter.com/tirtonadisolo)


Post Author: admin

Leave a Reply