Semarang Kotanya Perkeretaapian Indonesia

(SEMARANG,terminaltirtonadi.com) – Sesungguhnya dengan usainya peresmian Purna Pugar Gedung Lawang Sewu oleh Ibu Negara Ny. Ani Bambang Yudhoyono pada 5 Juli 2011, mengingatkan kembali Kota Semarang sebagai tempat awal sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai. Tak banyak yang tahu kalau sejarah perkeretaapian Indonesia bermula di Kota Semarang. Jalur pertama KA dibangun dari Kota Semarang. Di Kota Semarang pernah berkantor lima perusahaan kereta api swasta pada jaman Pemerintahan Hindia Belanda.
Meskipun sudah ada jalan raya pos (de Grote Postweg) yang dibangun masa Daendels, produk perkebunan masih banyak yang belum terangkut berada di pedalaman, sehingga membutuhkan prasarana transportasi untuk membawa dan diolah menuju pelabuhan. Untuk itu diperlukan jaringan jalan rel yang menghubungkan kawasan pedalaman menuju pelabuhan.
Jalur pertama
 
Menurut Buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia (1997), pada 15 Agustus 1840 Kolonel Jhr. Van Der Wijk mengusulkan di Pulau Jawa dibangun alatr transportasi baru. Hal itu dilakukan dalam upaya mengatasi kesulitan prasarana dan saran transportasi ketika itu. Terjadi pro dan kontra keikutsertaan swasta membangun jaringan itu. Banyak kalangan pengusaha swasta khusunya perkebunan mengajukan permohonan konsesi untuk membuka pengusahaan KA di Pulau Jawa. Raja Belanda Willem III memerintahkan T. J. Stieltjes untuk menyelidiki tentang kemungkinan pembangunan transportasi KA di Pulau Jawa.
semarang-kota--perkeretapian
Akhirnya 17 Juli 1864 dilakukan pencangkulan pertama pembangunan jalan rel oleh Gubernur Jenderal Belanda H.A.W.J Baron Sloet van de Beele. Jalur dibuka menghubungkan Samarang-Tangoeng (Tanggung, Kab. Grobogan) sejauh 25 kilometer. Selama 3 tahun, pembangunan jaringan rel dengan lebar 1.435 milimeter di bawah pengawasan Ir. J.P de Bordes dari Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Jalur ini dibangun dan dioperasikan perusahaan swasta berkedudukan di Den Haag yang mendapat konsesi dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda Pada 10 Agustus 1867 dioperasikan dengan rangkaian kereta yang ditarik lokomotif uap buatan Borsig. Lokomotif uap ini didatangkan dua unit pada 22 Juni 1865., Tahun 1873 jalur itu (antara Semarang-Solo-Yogyakarta) termasuk lintas cabang Kedungjati-Ambarawa selesai dibangun untuk kepentingan militer. Keseluruhan jalur itu sepanjang 206 kilometer. Berikutnya, NISM melebarkan usahanya dengan membangun jaringan Yogyakarta-Brosot (tahun 1893). Kemudian disusul jalur Yogyakarta-Ambarawa lewat Magelang dan Secang dan terakhir dibangun jalur Gundih-Surabaya sejauh 245 kilometer.
NIS mendapat konsesi dengan menghubungkan daerah pertanian yang subur di Jawa Tengah dengan kota pelabuhan Semarang. Stasiun Samarang yang berada di Tambaksari tidak jauh dari pelabuhan. Pada 1914, Stasiun Samarang diganti Stasun Tawang. Tahun 1908 setelah dibangun Kantor Pusat NIS yang baru berada di ujung Jalan Bodjong di Wilhelmina..berseberangan dengan Kediaman Gubernur.
Dengan semakin panjang jaringan rel yang dibangun dan dioperasikan, pasti diikuti bertambahnya pegawai. Semula kantor pengelola berada di Stasiun Samarang NIS dianggap tak memadai. Setelah mencoba menyewa beberapa bangunan milik perorangan dan ternyata tak efisien. Akhinya diputuskan untuk membangun gedung baru dan diputuskan lokasinya berada di pinggir kota. Ketika itu pusat kota Semarang masih berada di Kota Lama. Gedung ini dirancang oleh arsitek Belanda C.Citroen dari Firma J.F. Klinkhamer dan B.J. Quendag pada tahun 1903, dibangun tahun 1904 dan selesai tahun 1907. Lawang Sewu mulai digunakan untuk kantor NIS, pada 1 Juli 1907.
Berkantor 5 perusahaan KA
Kantor Daerah Operasi IV PT Kereta Api Jl. Thamrin Nomor 3 Semarang di tahun 1930 pernah digunakan untuk empat perusahaan trem uap yang melayani Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keempat perusahaan itu adalah pertama Serajoe Dal Stoomtram Maatschappij (SDS) melayani jalur Purwokerto-Wonosobo. Kedua, Samarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) mengoperasikan lintas Semarang-Juwana (Semarang-Demak, Kudus, Juwana, Rembang, dan Lasem) . Jalur ini menjalar sepanjang 300 km dan dibuka antara tahun 1811 dan 1812.
Perusahaan ketiga adalah Samarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) yang melayani jalur Semarang-Cirebon menyinggahi Kendal, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon. Jalur sepanjang 275 km ini dibuka tahun 1900. Keempat adalah lintas trem di jalur kota Surabaya Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) yang dibuka 1889 merupakan trem uap yang membentang dari Ujung (Pelabuhan Tanjung Perak) hingga Karangpilang melewati Wonokromo. Oost Java Stoamtrem (OJS) bersama dengan SJS, SCS dan SDS biasa disebut De Zustermaatchappen (perusahaan bersama). Sementara Gedung Lawang Sewu merupakan kantor dari perusahaan kereta swasta NIS.
Antara tahun 1882-1883, perushaaan SJS membangun jaringan trem di Kota Semarang yang menghubungkan Jurnatan-Jomblang dan Jurnatan-Bulu. Jalur trem ini tidak beroperasi lama, tahun 1940 ditutup dengan alasan penghematan, meskipun banyak tentangan ketika itu. Selanjutnya lokomotif yang pernah dioperasikan di Semarang dipindah ke Surabaya. Sekarang prototipe lokomotif uap itu masih terpajang di depan Stasiun Pasarturi di Surabaya. Di Surabaya dibangun trem pada 1889 yang dioperasikan oleh Oost Java Stoamtrem (OJS).
Kala itu di Semarang pernah memiliki tiga stasiun besar, yakni Stasiun Jurnatan yang melayani lintas Semarang-Rembang, Stasiun Tawang yang melayani lintas Semarang-Solo-Yogyakarta dan Stasiun Poncol yang melayani lintas Semarang-Cirebon.
Stasiun Jurnatan yang sudah hilang. Stasiun ini berhenti beroperasi tahun 1974 dan tahun 1986 dibongkar untuk dijadikan pertokoan, Sebelum dibongkar, digunakan untuk terminal bus antara kota. Setelah dibangun Terminal Terboyo, berubah fungsi seperti sekarang. Agak kesulitan membangkitkan perkeretaapian dari stasiun ini. Pasalnya, rel lama sudah terpendam aspal jadi tak bisa lagi menghidupkan jalur kereta lama. Namun dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) 2010-2030, lintas Semarang-Rembang memang akan diaktifkan. Tapi perjalanan sudah tidak berawal dari bekas Stasiun Jurnatan.
Potensi terlupakan
 
Kembali pada sejarah perkeretaapian di Semarang, perayaan pengoperasian KA selama ini hanya dirayakan oleh masyarakat pecinta KA bekerja sama dengan PT Kereta Api. Sementara Pemkot. Semarang dan Pemprov. Jawa Tengah telah melupakan kalau peringatan ini merupakan aset wisata yang bisa dijadikan agenda rutin setiap tahun. Kalau dikemas dengan baik dapat mendatangkan sejumlah turis dari dalam maupun luar negeri.
Kelak di tahun 2012 tepat 145 tahun keberadaan perkeretaapian di Indonesia, hendaknya bisa menjadi peristiwa penting untuk dirayakan. Pemkot. Kota Semarang dan Pemprov. Jawa Tengah dapat menjadwalkan dan membiayai peristiwa itu menjadi agenda rutin pariwisata di Semarang dan Jawa Tengah setiap tahunnya. (*)
semarang-kota-perkeretapian
Dikirim oleh : Djoko Setijowarno, Peneliti Laboratorium Transportasi, Pengajar Jurusan Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat
 
Silahkan berikan masukannya di kolom komentar. Jika anda merasa artikel ini bermanfaat, jangan lupa untuk mengKLIK tombol share agar semua orang tahu…
Klik juga 
Like fanpage (https://www.facebook.com/Terminal-Tirtonadi-Solo-136966650170977/)
Ikuti akun twiter  (https://twitter.com/tirtonadisolo)
 

Post Author: admin

Leave a Reply