Ditjen Hubdar Gelar Uji Publik Menuju Terminal Bus A Wow Keren

 
(SOLO,terminaltirtonadi.com)– Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan RI menggelar Uji Publik Pengkayaan Draf Materi Kebijakan Dalam Rangka Mewujudkan Terminal Bus A Wow jauh Lebih Keren di Terminal Tirtondi Solo, Rabu, 4 Oktober  2017. 
Hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Prasaran Perhubungan Darat Ir JE Wahjuningrum MT dan sejumlah pejabat di lingkungan Dirjen Hubdar, Panelis Djoko Setijowarno (pengamat transportasi nasional), Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY-Jateng, akademisi UNS dan Unisri, YLKI, dan para pemangku kepentingan di Terminal Tirtonadi. 
JE Wahjuningrum mengatakan, kegiatan uji publik ini untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak terhadap pelayanan di terminal bus A, khususnya di Terminal Tirtonadi.
“Kami ingin mendapatkan masukan sebanyak-banyaknya dari pemangku kepentingan di Terminal Tirtonadi agar terminal tipe A di Indonesia semakin lebih baik lagi,” kata JE Wahjuningrum.
Ia juga mengharapkan, terminal bus A ke depannya bisa dimanfaatkan masyarakat dalam berbagai hal. Sehingga bisa bermanfaat tidak saja bagi keperluan untuk bepergian masyarakat saja tetapi juga kegiatan perekonomian lainnya. 
Sementara itu, Panelis Djoko Setijowarno mengharapkan, terminal ke depannya seperti stasiun dan bandara. Fasilitas, keamanan, kenyamanan bisa mendekati apa yang disediakan di bandara dan stasiun.
“Setidaknya pelayanan di terminal mendekati pelayanan ala bandara dan stasiun,” imbuhnya. 
Dalam kegiatan itu berlangsung tanya jawab, tukar pikiran, dan sumbang saran, kritik dari peserta uji publik. Muara dari diskusi itu adalah bagaiaman ke depannya terminal bus A di Indonesia ini lebih baik lagi.
Kegiatan yang diprakarsai Dirjen Hubdar Kemenhub dalam rangka mewujudkan pelayanan terminal bus yang tertib, teratur dan nyaman. Oleh karenanya uji publik perlu dilakukan sebagai upaya rekayasa sosial budaya bagi para stakeholder yang terlibat dalam operasional terminal bus. Mengingat kondisi pelayanan terminal bus saat ini masih belum optimal antara lain karena masih adanya prilaku buang sampah semabrangan, fasilitas toilet, kurang bersih, penggunaan fasilitas terminal bus yang tidak semestinya dan lain lain.Upaya rekayasa sosial budaya ini dilakukan dengan harapan dapat memposisikan pelayanan terminal bus sejajar dengan pelayanan stasiun kereta api.(bersambung-*)
 
 
tirtonadi-wow.jpg
 

Post Author: admin

Leave a Reply