Dilematisnya Operasional Taksi Onlen


taksi-onlen
(SALATIGA,terminaltirtonadi.com) – Keputusan Presiden Joko Widodo tentang meminta meneruskan kebijakan transportasi onlen merupakan keputusan pragmatis karena ekonomi riil Indonesia tidak bergerak banyak, meski pertumbuhan ekonomi wajar. Tingkat ketimpangan ekonomi kota nomor 4 terbesar di dunia.
Alih subsidi yang telah dilakukan belum bisa menggerakkan ekonomi riil, jadi ada ketakutan kalau kalau kalau masyarakat menengah bawah tidak bisa cari makan.
Padahal manfaat ekonomi yang didapat masyarakat menengah bawah (baca sopir taksi onlen) tidak sebanding dengan benefit yang diperoleh pemilik modal (bisnis data), akhirnya malah semakin membuat ketimpangan ekonomi pemilik modal semakin kaya.
Dan celakanya meninggalkan kerusakan pada upaya untuk membangun transportasi yang benar.
Tirulah langkah Pemprov Jateng yang berani memberi subsidi operasional BRT Trans Jateng sepanjang 36,5 km Koridor Bawen (Kabupaten Semarang) – Stasiun Tawang (Kota Semarang) sebesar Rp 5,4 miliar mulai Juli-Desember 2017.
Tidak perlu pengadaan armada, operator yang mengadakan sebanyak 18 bus dari kebutuhan 25 bus. Menggunakan bus berkapasitas 42 penumpang.
Tingkat isian 83% (sehari sudah 3.800 penumpang), waktu tempuh 90 menit. Setiap hari, bus beroperasi mulai operasi pukul 05.00 hingga 21.00. Tiap armada akan beroperasi 6 rit per hari. Jarak antar bus atau headway 15-20 menit.


Operator adalah pengusaha angkutan umum di jalur yang sama. Berbadan hukum koperasi, yakni Koperasi Mulia Orda Serasi. Tidak ada gejolak atau demo dari pengusaha angkutan umum yang ada. Karena sebagian dari mereka sudah menjadi anggota koperasi yang menaunginya. 
Pengemudi mendapat gaji tetap bulanan dan berkerja dengan sistem 2 hari bekerja 1 hari libur. Program ini dapat menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 150 orang.(*)

Dikirim oleh : *Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia

Post Author: admin

Leave a Reply