Berbahaya, Pembangunan Infrastruktur tanpa Pemberdayaan Ekonomi

tol soker byl-ngawi 
(SOLO,terminaltirtonadi.com) Pembangunan infrastuktur tanpa diimbangi program-program pemberdayaan ekonomi untuk mobilitas vertikal sosial ekonomi akan semakin memperparah ketimpangan dan kemiskinan.
Infrastruktur yang bagus akan mempermudah pemilik kapital untuk semakian memperluas kapitalisasi mereka. Masyarakat miskin akan semakin miskin karena mereka tidak punya kemampuan dan daya untuk merebut kue perekonomian, walaupun kondisi infrastruktur semakin bagus.
Justru yang lebih dikhawatirkan adalah semakin mudah masyarakat menengah bawah melepas kepemilikan asset mereka karena iming-iming dan ekspansi bisnis kapitalis. Esensinya adalah bagaimana memberdayakan masyarakat untuk memiliki kemampuan berekonomi yang baik agar mereka mampu memanfaatkan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.
Ini hal yg sangat tidak mudah. Perlu fokus tersendiri, perlu perubahan fundamental pembangunan.
Lebih baik mengerem pembangunan infrstruktur untuk dialihkan pada pemberdayaan UMKM, atau tetap membangun infrastruktur tapi juga mengencangkan program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Hal ini memang tidak terlihat hasilnya dalam jangka pendek, dan rasa-rasanya kurang menguntungkan untuk sekedar pencitraan jangka pendek, tapi hasilnya akan lebih menguatkan pondasi ekonomi rakyat di masa mendatang.
Kalau percepatan pembangunan infrastruktur jauh melaju dibanding pemberdayaan ekonomi lemah, akhirnya kapitalisasi akan merebak kemana-mana, sebab membangun fisik jauh lebih mudah daripada membangun pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pembangunan fisik infrastruktur diperlukan, terutama di luar Jawa, namun hharus disertai pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah dan penyediaan sarana mobilitas dengan ongkos yang terjangkau.
Subsidi atau bantuan sudah cukup banyak diberikan masyarakat kurang mampu, tapi ongkos mobilitas masih mahal, belum mampu angkat ekonomi rakyat.
 
 
Di jalur Tol Jakarta-Cikampek dan Tol Jakarta-Bogor sudah terbukti, sulit temui pemukiman penduduk lama dan lahan pertanian subur, semuanya jadi kawasan industri dan pemukiman mewah yang baru, bukan pemukiman lama yang ditata menjadi lebih mewah.
Mumpung belum terlambat, segeralah buat program pemberdayaan rakyat  terutama yang  diperkirakan terkena dampak pembangunan TOL TRANS JAWA, jalan sejajar perbatasan di Kalimantan dan Trans Papua. Juga beberapa kawasan sekitar pembangunan bandara dan pelabuhan yang baru di luar Jawa.
Untuk ruas jalan-jalan baru di luar Jawa, perlu disediakan angkutan umum perintis untuk meningkatkan mobilitas warga, sehingga  perekonomian bergerak.
Kerjasama antar Kemen PUPR, Kemenhub, Kemensos, Kemenkop & Pemberdayaan UMKM dan PEMDA terkait diperlukan. (*)

*Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia
Silahkan berikan masukannya di kolom komentar. Jika anda merasa artikel ini bermanfaat, jangan lupa untuk mengKLIK tombol share agar semua orang tahu…
Klik juga 
Like fanpage (https://www.facebook.com/Terminal-Tirtonadi-Solo-136966650170977/)
Ikuti akun twiter  (https://twitter.com/tirtonadisolo)

Post Author: admin

Leave a Reply