Ritual Mudik Sebagai Lem Pengikat Tali Silaturahmi

(SOLO-terminaltirtonadi.com) Bersua  orang tua untuk sujud sungkem. Menyapa famili dan sanak keluarga untuk mengobati rasa rindu, sekaligus menjaga jalinan silaturahmi menjadi alasan kuat bagi pemudik untuk pulang kampung pada saat Lebaran.
silaturahmi-mudik-eratkan

Hal itulah yang mendasari Dwi Haryanto (35), pulang ke tanah kelahirannya di Dukuh Karungan, Plupuh, Sragen.  Bapak dua putra ini mengaku tak memedulikan ongkos perjalan yang membumbung,ditambah sumpeknya berdesak-desakan dengan pemudik lain di kereta api (KA) untuk menjenguk luhurnya.
 “Saya harus mudik karena keluarga ada di kampung. Mudik memberi kesempatan untuk sungkem kepada orang tua dan menguatkan silaturahmi dengan kerabat. Inilah momen ketika semua anggota keluarga besar bisa berkumpul. Sekaligus melepas rindu. Bagi saya, sejauh apapun saya merantau, pada saatnya akan pulang ke kampung halaman juga,” ucap pria yang tinggal Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Pekerja percetakan ini menuturkan sebagai tempat bermain dan tumbuh dari kecil hingga dewasa, kampung halaman memberikan ikatan emosional yang kuat. “Apalagi kelurga besar juga menetap di sana.”
Ia pulang kampung mendekati Lebaran dengan menggunakan jasa KA tujuan Solo. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan ke Bumi Sukowati. “Naik kereta api waktu tempuhnya lebih pasti jika dibandingkan bus. Ancaman macet jelas tidak ada. Saya membiayai sendiri semua keperluan mudik itu,” ungkapnya.
Mempererat jalinan silaturahmi juga dijadikan alasan Winda Utami memilih mudik ke Weru, Sukoharjo. Bahkan, lajang yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk mengunjungi saudara dan teman-temannya.
 “Selagi masih ada keluarga ya, dijaga silahturami. Saya bisa dua minggu di kampung karena sudah sisihkan duit sejak dua bulan yangg lalu,” tuturnya. Meski lahir dan dibesarkan di Ibu Kota, pendidik di salah satu perguruan tinggi di Jakarta berupaya keras mencari berkah dengan menjalin keakraban dengan saudara sedarah sedaging. Apalagi rezeki melimpah dan kesehatan memadai hingga, perempuan berkerudung ini rela bepergian ratusan kilometer dari tempat tinggalnya. “Hitung-hitung  sekalian refreshing, sambil melepas kangen rekan-rekan di Sukoharjo,  Solo dan Yogyakarta. Rencananya saya akan jalan-jalan dulu setelah berlebaran,” katanya. 
Sayang, kesempatan mudik tahun ini tak akan dirasakan Rathomy Mahyudin Arfan tahun ini. Saat ditemui di rumahnya di Sumber, Banjarsari, Solo, pegawai perusahaan percetakan terbesar di Solo ini tidak bisa pulang kampung dulu di tempat kelahirannya Pare, Kediri, Jatim. Ia memilih menghabiskan libur Lebaran dengan keluarga besar istrinya Sri Wahyuningsi di Sragen. Namun baginya mudik ke tanah kelahiran saat Idul Fitri menjadi diinginkan oleh para perantau. “Mudik menjadi cara ampuh untuk meningkatkan semangat hidup,” katanya.  “Kampung halaman itu awal dari perjalanan hidup seseorang, ada sosok yang berjasa di sana, seperti saudara, teman, tetangga, mereka turut berjasa mengisi perjalanan hidup kita. Setelah bertemu mereka menambah motivasi hidup,” lanjut dia.
Setiap pulang kampung alumnus Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini memilih menyewa mobil. Dengan biaya pulang pergi Rp 1 juta, waktu perjalanan 4-5 jam perjalanan rindu kampung langsung terobati.

mudik-eratkan-silaturahmi

Distorsi

Beda lagi dengan apa yang diungkapkan Desto Prastowo, menurutnya libur panjang jelang Lebaran harus dimanfaatkan betul untuk menyambangi keluarga dan sanak famili di Wuryantoro, Wonogiri. PNS di lingkungan Pemkab Blora ini mengaku meski perantauanya tak sejauh di Jakarta atau luar Jawa, tradisi pulang kampung amat dinantinya sepanjang tahun.
Suami Fitrie Dewi ini menyatakan, izin libur yang diberikan instansinya memudahkannya sebagai PNS  untuk mengatur agenda tilik kampung pada Lebaran kali ini. Ia menyebut mudik kali memiliki warna hedonis daripada religius. “ Kan mumpung libur panjang, eh kok pas dapat gaji ke-13, ya mudik jalan terus. Kebetulan keluarga besar di Wonogiri,” tuturnya.
Lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta  ini menyebut, mudik sebagai tradisi turun-temurun amat dipertahankan di lingkunganya. Kendati demikian, alasan religius yang menjadi roh mudik dengan ingin bersilaturahmi kepada orang tua dan kelurgamulai terdistori menjadi gaya hidup hedonisme bagi sebagian kalangan. “Mudik menjadi sarana unjuk kesuksesan, semakin sukses di perantau maka semakin dia bersemangat untuk mudik. Alasan keamanan, biaya, waktu dan efisiensi dinomorduakan. Apalagi masyarakat kita latah ikut-ikutan. maka kebiasaan ini menjadi menyebar dan dianggap sebuah kebenaran dan hal utama. Sayangnya saya dan istri ikut yang kedua ini,” tuturnya sambil tersenyum.(*)

Silahkan berikan masukannya di kolom komentar. Jika anda merasa artikel ini bermanfaat, jangan lupa untuk mengKLIK tombol share agar semua orang tahu…
Klik juga 
Like fanpage (https://www.facebook.com/Terminal-Tirtonadi-Solo-136966650170977/)

Ikuti akun twiter  (https://twitter.com/tirtonadisolo)

Post Author: admin

Leave a Reply