Tirtonadi, Terminal Tersibuk di Tanah Air

 
(SOLO, terminaltirtonadi.com)-Selama pelaksanaan Arus Mudik Balik tiap tahunnya, Terminal Tirtonadi Solo menjadi terminal tersibuk di Indonesia. Setiap tahun selama H-7, Hari H dan H+7 Lebaran, rata-rata 1,3 juta penumpang keluar masuk terminal. Adapun bus reguler, bus ekstra yang masuk dan keluar mencapai 1.000 bus. Mobilitas manusia dan angkutan umum yang begitu besar tentunya butuh fasilitas, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia yang mumpuni. Di terminal kebanggan wong Solo ini semuanya tersedia dengan baik.
Pada hari-hari biasa, kesibukan keluar masuk penumpang dan bus pun tetap berjalan.  
Apalagi ada rencana, pembangunan terminal ini akan diintegrasikan dengan pembangunan pusat sandang dan kegiatan bisnis di lantai dua terminal. Tentu saja, kesibukan terminal akan berlangsung selama 24 jam.
Menurut Eko Agus Susanto yang waktu itu menjadi Kepala Terminal Tipe A Tirtonadi Surakarta, butuh waktu enam tahun bagi terminal ini bisa memenuhi tingkat pelayanan maksimal. Selama dua kali musim Lebaran, terminal ini masih dalam pembangunan dan pembenahan.
“Baru musim lebaran ketiga, terminal benar-benar siap menerima pemudik secara total karena fasilitas terminal seperti parkir bus, terminal kedatangan dan keberangkatan sudah 100 persen bisa dijalankan.”
terminal-tirtonadi-tersibuk
 
Nah, sejak pembangunan fisik terminal rampung 2015, pelayanan pelayanan bagi penumpang dan kru bus meningkat drastis. Terminal peninggalan mantan Wali Kota Joko Widodo yang sekaligus Presiden RI ke-7 sudah memiliki layanan setara bandar udara.
Saat ini (Terminal) Tirtonadi mampu menampung 20.000 penumpang di terminal barat, tengah dan timur. Dengan fasilitas ruang tunggu ber-AC, toilet gratis dan tempat ibadah nyaman. Khusus kapastitas parkir bus bisa menampung 75 bus, termasuk ruang istirahat kru bus,” 
Eko mengungkapkan, terminal yang berdiri di lahan seluas 5 hektare dengan luas bangunan 61.366 M2 ini dibangun dengan misi mengutamakan kenyamanan dan keamanan penumpang. 
 
Baru pada 2016, fungsi-fungsi terminal yang nyaman dan aman itu sudah berjalan. 
Semua itu tak lepas dari Pperan pemeritah pusat dalam hal ini Kementerian Perhubungan. Pemerintah berkontribusi dalam hal pemenuhan penganggaran pembangunan terminal yang total menghabiskan Rp 161 miliar. Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemkot Surakarta membantu sisanya.
Dan mulai Januari 2017, andil pemerintah pusat terhadap pengelolaan terminal tipe A pada semakin besar. Sesuai dengan amanah Undang-Undang 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan, pusat berencana menarik pengelolaan jembatan timbang dan terminal tipe A dari daerah. “Pengambilalihan kewenangan dari daerah ke pusat sudah dimulai dengan usulan status pegawai yang dimulai pada Oktober nanti,” katanya. (*)
tirtonadi-terminal-tersibuk

Post Author: admin

Leave a Reply