Bandara Matak untuk Akses Menuju Anambas

 
(RIAU,terminaltirtonadi.com)– Menuju wilayah perbatasan yang cukup banyak obyek wisata, Kabupaten Kepulaan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau dapat dilakukan melalui udara. Saat ini sudah ada layanan penerbangan komersial setiap dari Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang (Pulau Bintan) menuju Bandara Matak (Pulau Palmatak). Dengan menggunakan Xpress Airline dengan kapasitas 32 seat bertarif Rp 1,2 juta selama 55 menit. 
Jika menggunakan kapal ferry (Tanjungpinang-Tarempa sejauh 225 mil) dengan tarif Rp 450.000 dengan lama perjalanan 7-9 jam tergantung cuaca.
Mendarat di Bandara Matak, bandara khusus milik perusahaan minyak Medco. Penerbangan dengan pesawat sewa untuk keperluan operasional perusahaan Medco setiap hari ada Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta) dilakukan Trans Nusa Airservice dan Pelita Air Service. Selain pegawai perusahaan tersebut, masyarakat sekitar dapat menikmati penerbangan ini dgn gratis jika masih tersedia tempat duduk. Cuma cukup membayar Rp 6.000 untuk pengganti materai surat pernyataan penduduk setempat.
Setiba di Bandara Matak,  perjalanan selnjutnya  ke Tarempa (ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas) masih harus dengan kendaraan bermotor (jalan darat) menuju pelabuhan penyeberangan selama 10-15 menit.
 
Dengan menggunakan speedboat kapasitas 7 orang melaju menuju Tarempa. Cukup dengan membayar Rp 50.000/orang. Dalam kondisi cuaca cerah,  kurang dari 20 menit sudah tiba.
Sayangnya, semua speedboat tidak memiliki jaket pelampung (life jacket) sebagai syarat kelengkapan setiap kapal untuk keselamatan penumpang.
airport-matak-airport.jpg
 
Bandara Matak 
 
Saat ini, Bandara Matak merupakan bandara yang paling sering digunakan sebagai pintu masuk ke wilayah Anambas. Baik dari kalangan pejabat pemerintah, masyarakat maupun wisatawan. 
Walau sudah ada Bandara Letung, namun jadwal penerbangan masih seminggu sekali. Sebenarnya layanan bagi penumpang umum belum memenuhi standar pelayanan bandara. Proses check in dilakukan di tempat terpisah dan tidak nyaman. 
Ada permintaan dari Pemkab Kabupaten Kepulauan Anambas supaya Bandara Matak menjadi  bandara umum. Hal yang wajar, karena melalui bandara ini lebih singkat waktunya menuju Kota Tarempa daripada lewat Bandara Letung, sekitar 2 jam menggunakan kapal ferry.
Keberadaan bandara baik di Pulau Palmatak (Bandara Matak) maupun Pulau Jemaja (Bandara Lutung) sangat dibutuhkan warga setempat. Terlebih jika ada warga yang sakit, memerlukan layanan medis di RS yang lebih lengkap di Tanjungpinang.
Di samping itu, wilayah Kepulauan Anambas yang terpencil di utara perbatasan, hanya  1,3% lahan berupa daratan. Akses transportasi pelabuhan dan bandara sangat dibutuhkan. 
Saat musim angin utara dan selatan, ombak sangat besar, mengganggu pelayaran. Moda pesawat udara menjadi pilihan utama.
Demikian pula untuk wisatawan yang akan berkunjung ke Anambas, moda pesawat pasti menjadi prioritas. Potensi wisata, terdapat lebih kurang 70-an obyek wisata menarik bagi pelancong. Keberadaan bandara di Kepulauan Anambas dapat memajukan perekonomian dan meningkatkan jumlah pelancong yang berkunjung. (*)
 
Dikirim oleh : *Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia
matak-airport.jpg
 

Post Author: admin

Leave a Reply